Archive for April, 2008

Selamat jalan teman (buat Yusuf)

Pagi ini saya mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan. Teman saya Yusuf, yang telah bertahun-tahun bersama kami, melayani Tuhan bersama, melewati berbagai hal bersama, ternyata pagi ini pkl 6.30 meninggal dunia. Penyebabnya adalah suatu penyakit autoimun bernama Guillain-Barre Syndrome (GBS). GBS adalah suatu penyakit autoimun bernama Guillain-Barre Syndrome (GBS). GBS menyebabkan kelumpuhan otot tubuh, menjalar dari bawah, sampai menyebabkan kelumpuhan otot pernapasan.
Yusup dalam kenangan saya adalah teman yang melayani Tuhan dengan sepenuh hati. Dan juga seorang pekerja keras dan ulet. Hal ini terlihat jika PS Efrata mendapat lagu baru, maka di saat kami sedang beristirahat sering kali k?mi melihat Ucup berkutat dengan ‘little black dots’ alias gambar2 kecambah di partitur pianonya. Saya tidak akan mengatakan Ucup adalah seorang jenius musik yang dng enteng menguasai berbagai lagu , namun dia adalah seorang pekerja keras yang akan mempelajari lagu tersebut sampai bisa, meski akan memakan waktunya sendiri. Di situlah justru letak kekuatannya.
memakan waktunya sendiri. Di situlah justru letak kekuatannya.
Sebagai seorang teman Yusup adalah teman yang baik, menyenangkan. Ia memang perasa, dan sering menyimpan sendiri jika ada hal yang menurutnya tidak me perasa, dan sering menyimpan sendiri jika ada hal yang menurutnya tidak menyenangkan . Namun di sisi lain ia pun tidak akan segan menegur jika ada rekan yang melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dalam pelayanan. Kombinasi ini juga menjadi kelkuatan Ucup yang membuatnya bertahun-tahun melayani di gereja, dan PS Efrata. Saya selalu berharap saya memiliki kekuatan hati seperti dia dalam melayani.
Selamat jalan temanku, kami benar-benar kehilangan. Selamat berbahagia di sisi Bapa, kita bertemu lagi saatnya nanti…
___
Sent with SnapperMail
through Treo650
with Telkom Flexi network
.

Monday, April 28th, 2008

Devide Et Impera, Demonstrasi dan Ketauhidan

Tulisan ini dibuat oleh kakak kelas saya yang nyentrik, mas yungki, di bulletin board friendster-nya… saya copy paste di sini, karena saya cukup tergelitik membacanya. Saya muat di sini seizin penulisnya, tanpa sedikit pun maksud tidak baik, melainkan murni mengajak pembaca berpikir lebih dalam mengenai wacana yang berkembang akhir-akhir ini….

Amenangi jaman edan,
Ewuh aya ing pambudi,
Melu edan nora tahan,
Yen tan melu hanglakoni,
Boya kaduman melik,
Kaliren wekasanipun,
Dilalah kersaning Allah,
Sabegjo begjane wong lali
Isih begjo wong kang eling lan waspodo
-by Ki Ronggo Warsito

Tidak salah bila ada yang mengatakan
bahwa manusia adalah lumbungnya
kealpaan, gudangnya lupa. Seperti bait
tembang diatas, dalam “Serat Kalatida”
karya Ki Ronggo Warsito, mengingatkan
betapa banyak hal-hal yang kita
lupakan.

Seminggu yang lalu tepatnya pagi hari
kamis tanggal 29 Maret 2008, saya
sedang berjalan di areal parkir RSCM
menuju mobil. Saya didatangi seseorang
dengan wajah sangat serius, dia ini
mahasiswa Fakultas Pasca Sarjana,
program doktor. “Mas, panjenengan apa
sudah melihat film Fitna? Hari ini
banyak teman-teman yang berangkat demo
ke kedutaan Belanda. Saya juga mau
ikutan,” dokter neurologi kelahiran
Kediri ini memang selalu serius.

Saya jawab, “Wah, sampeyan ini
semangatnya memang luar biasa. Tadi
malam saya sudah mengakses situs itu.
Filmnya biasa-biasa aja kok, nggak ada
yang istimewa. Film-film indie karya
remaja-remaja kita jauh lebih bermutu”

“Lho, biasa-biasa bagaimana? Inikan
penghinaan terhadap agama Islam,” nada
bicaranya mulai meninggi. “Kita nggak
boleh tinggal diam, nggak boleh ada
yang menghina umat Islam, penjenengan
setuju nggak?”

Saya hanya tersenyun, mengangguk dan
masuk mobil, memang tidak ada
seorangpun yang berhak menghina apapun.

Sehari sebelumnya, saya mendapat sms
dari salah seorang teman saya. Isinya,
ada film bertitel “Fitna” karya
politikus Belanda, namanya Geert
Wilders seorang pemimpin Party for
Freedom(PVV) di parlemen Belanda. Satu
setengah jam kemudian saya berhasil
mengakses situs yang dimaksud. Film
ini berisi pandangan Wilder mengenai
Islam dan Qur’an dan merupakan film
propaganda. Karena dia ini seorang
politikus yang bukan ahli agama -apa
lagi agama Islam-, ya tentu saja
pandangannya terhadap salah satu agama
sarat akan tujuan-tujuan politis

Wilders merilis film tersebut pada
tanggal 27 Maret 2008 pukul 19.00
waktu setempat (Belanda) di situs
video Liveleak. Semenjak itu, staf
Liveleak menerima ancaman, dan
memutuskan untuk menghapus video itu.
Per 29 Maret 2008, sebuah plakat di
atas situs itu menyatakan bahwa
itu “hari menyedihkan bagi kebebasan
berbicara di internet”. Versi bahasa
Belanda dari film itu dilihat 1,6 juta
kali dalam 2 jam. Versi bahasa Inggris-
nya dilihat 1,2 juta kali dalam 5 jam.
Luar biasa memang.

Rupanya Ndoro Menir Wilder ini tidak
hanya puas sampai disitu, “Pesan saya
jelas: makin banyak islamisasi akan
berarti berkurangnya kebebasan kita,
akan mengurangi hal-hal yang kita
junjung tinggi di Belanda dan di
sebuah negara demokrasi,” kata Geert
Wilders kepada Radio Nederland tak
lama setelah filmnya keluar.

Kontan saja ulah kumpeni yang satu ini
menimbulkan rekasi keras dimana-mana.
Sekjen PBB Ban Ki Moon mengutuk
penayangan film ini. Pemerintah Iran
memanggil duta besar Belanda untuk
memprotes penayangan film tersebut.
Begitu pula dengan Malaysia. Bahkan,
mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad,
menyerukan kepada seluruh ummat Islam
untuk memboikot semua produk Belanda.
Sedangkan pemerintah Indonesia dengan
tegas mengecam dan mencekal Geert
Wilders apabila Ia hendak berkunjung
ke Indonesia.

Sangat mungkin justeru hal ini yang
diharapkan oleh londo yang satu ini
untuk mendongkrak popularitasnya di
kancah perpolitikan di negaranya.
Sejak empat abad yang lalu kita sudah
kenal dengan kelicikan gaya devide et
impera macam ini, seharusnya kita
tidak perlu kaget.

Perdana Menteri Belanda Balkenende
buru-buru mengeluarkan pernyataan
resmi, “Kami menyayangkan film ini
ditayangkan oleh Wilders. Kami tidak
mengerti apa tujuan film ini kecuali
menyakiti perasaan. Pemerintah merasa
didukung oleh reaksi-reaksi pertama
yang berimbang dari organisasi-
organisasi Muslim di Belanda.”
Pernyataan ini tidak cukup untuk
menghentikan kelombang protes,
gelombang demo!

Tidak terkecuali di tanah air kita.
Demo yang akhir-akhir ini sudah
demikian marak, semakin seru dengan
adanya film yang nggak mbejaji ini.

Demo itu bagian dari kemegahan anak
muda sekarang. Bagi sementara orang,
demo adalah sekaligus ukuran
keberanian. Anak muda karenanya selalu
sukar menyembunyikan kesan gagah tiap
kali kepada orang lain berkata: “Tadi
saya ikut demo”.

Lebih gagah lagi bila pekerjaan
berdemo itu diberi embel-em­bel seperti
pemah dilakukan seorang pemuda
kita: “Demi tauhid saya berani berdemo
ke istana”.

Demi tauhid. Untunglah kita punya kata
demo dan tauhid sekaligus. Dan
untunglah kita masih bisa menggunakan
ukuran tauhid di pentas politik.

Memang belum jelas buat siapa
keuntungan bakal dipetik bila kita
bicara tauhid di tengah, atau sesudah,
suatu acara demo berlangsung. Tapi
bila tauhid jadi pegangan kita,
setidaknya lalu terbayang dalam benak
bahwa karena tauhid itu maka kita ber­
buat apa saja, termasuk berdemo, bukan
lantaran hendak pamer keberanian. Juga
bukan karena tindakan berani itu
lantas meng­undang keplok dan decak
kekaguman khalayak ramai.

Tauhid, sekalipun sekadar sebagai
simbol, tak bisa dipakai untuk hal-hal
seperti itu. Tauhid mengajari
bagaimana kita menunduk. Apa lagi bila
tauhid bukan sekadar simbal, melainkan
sudah menyatu dalam darah daging dan
jiwa kita, maka segenap tindakan, apa
pun wujudnya, tentu kita lakukan demi
keikhlasan.

Hanya demi keikhlasan, sebab di bawah
panji-panji tauhid, tiap pekerjaan
lantas jadi ibadah namanya. Dan
ibadah, di mana pun, bukan perkara
berani atau takut, bukan juga soal
gagah, atau heroik. Ibadah itu perkara
biasa. Ibadah itu anti riuh rendah,
emoh keme­gahan, dan cuma perlu satu
hal: ya ikhlas tadi itu. .

Kita bahkan diminta membatasi diri
dari berbuat sesuatu, bila kita tahu
perbuatan itu akan menipu kita ke
jurusan rasa bangga dan bukan mengajak
menunduk dan tawadlu.
Begitu juga bila seorang anggota DPR
berani membongkar sebuah kolusi yang
memalukan bangsa dan negara. Bila
tauhid, sekali lagi, jadi pedoman,
maka dalam pekerjaan itu kita pun tak
layak berkata: “Saya tidak takut
kepada siapa pun selain kepada Tuhan.”

Saya cuma khawatir semua orang sudah
tahu akan retorika berbau moral ini.
Jadi kalau tidak salah, kita mungkin
tak harus mengatakan sesuatu yang
semua orang sudah tahu.

Kalau logika “demi tauhid saya berani
berdemo ke istana” dan “saya tidak
takut kepada siapapun selain kepada
Tuhan” boleh diteruskan, maka kita
akan jatuh ke dalam lembah kekonyolan.
Sebab dengan cara dan hakikat yang
sama orang lantas bisa saja
berkata: “Demi tauhid saya berani
shalat di masjid istana.”

Apa sih heroiknya shalat, pekerjaan
biasa itu, hingga perlu kita umumkan?
Bila benar diwarnai semangat tauhid,
sekali lagi, tak ada pekerjaan yang
cukup etis untuk kita banggakan. Malah
kalau perlu, sebaiknya kita
sembunyikan agar kita tak lantas
kelewat mengharap balasan. Bukankah
telah diajarkan juga ke­pada kita bahwa
bila tangan kanan memberi, tangan kiri
tak perlu tahu?

Demo, saudara-saudaraku, sepintas lalu
bisa kedengaran se­perti “Bemo”, dan
pantes-pantesnya demo adalah singkatan
dari “Demokrasi”, temyata maksudnya
malah “demonstrasi”.

Di masyarakat kita, demo bukan perkara
yang bisa dibi­carakan dengan tenang
dan dingin, sambil enak-enak minum ko­
pi. Dalam benak setiap aparat keamanan
yang sigap (dan semua aparat keamanan
memang sigap setiap menanggapi perkara
yang satu ini), di belakang kata demo
selalu terbayang sebuah kerusuhan,
atau potensi sebuah ancaman bagi
keamanan.

Demo, pendek kata, adalah barang peka
bagi penguasa dan aparat keamanan.

Lain halnya di mata rakyat biasa. Bagi
mereka, demo merupakan salah satu
jalan menuju, bahkan sudah menjadi
perangkat dari, demokrasi. Dalam demo­
krasi, kita tahu, ada mekanisme, ada
cara, jalan, dan unggah-ung­guh untuk
menyatakan setuju atau tak setuju,
atas sesuatu. Dalam demokrasi juga
diberi jalan menuntut, atau meminta,
sesuatu agar diadakan atau ditiadakan.
Demo, salah satu di antara meka­nisme
itu.

Pilihan strategi, termasuk dalam
urusan demo, memang pen­ting.
Keselamatan, bahkan juga sukses kita,
tergantung pada ke­mampuan kita memilih
strategi.

Demo, bagi saya, adalah sebuah usaha
membangun dialog. Dalam dialog itu
harus ditegakkan kesamaan derajat. Tak
ada pihak yang lebih tinggi dan lebih
berkuasa. Juga tak ada pihak yang
lebih diren­dahkan. Di mana pun posisi
kita dan usaha kita sarna: menegak­kan
demokrasi.

Bila benar ada seribu jalan lain
menuju Roma, mungkin ada pula seribu
jalan menuju demokrasi. Demo, kita
tahu, merupakan salah satu jalan yang
ada. Dan demo sering berwajah ganda.

Para pengemis yang menyergap pintu
masjid segera setelah shalat usai, ini
juga berarti sebuah demo. Di situ,
cuma beberapa menit setelah kita
berkata bahwa agama memperhatikan
nasib kaum miskin, kontan kita ditagih
untuk membuktikan ucapan.

Rupanya kita sering lupa, bahwa selain
berhak berdemo setiapa saat, kita ini
juga wajib didemo. Lagi-lagi kita lupa.

Ahhh, semoga kita selalu diparingi
eling

Monday, April 7th, 2008