Archive for the ‘Personal’ Category

Samarinda, setelah 13 tahun…

Akhirnya, setelah 13 tahun tidak menginjakkan kaki di kota kelahiran saya
Samarinda, kemarin saya datang lagi. Waktu sampai, saya langsung merasakan
kalau samarinda sudah sangat banyak berubah. Sekarang samarinda sudah
menjadi jauh lebih ramai, dan pertumbuhan kota ke arah ‘darat’ lebih
banyak.
Namun pagi ini ketika saya berjalan ke arah ‘laut’ di mana saya tumbuh
waktu kecil, keadaan tidak terlalu banyak berubah. Rumah2 yang terbuat dari
kayu masih dapat saya temukan di sana sini. Hm, pizza hut ternyata sudah
berdiri di bekas tempat kantor lecamatan hehehe…
Sudah ada bioskop 21 juga ternyata… Asiiiikkk… Sayangnya selama saya
jalan pagi ini selalu hujan rintik2, jadi tidak bisa terlalu menikmati
jalan-jalannya…
Sekian dulu, kalo ada perkembangan lg saya tulis hehehe
___
Sent with SnapperMail
through Treo650
with Telkom Flexi network
.

Tuesday, February 26th, 2008

Dragonforce : cacophony meets bon jovi

Lagi nunggu pesawat di airport juanda, iseng2 dengerin music player saya yang kebetulan isinya grup musik bernama dragonforce, album inhuman rampage. Terus terang belum terlalu lama kenal grup ini (kasian yah hehehe). diperkenalkan teman saya asykar, anak uro jakarta.
dragonforce menurut saya mengusung aliran power metal, dan setahu saya mereka sendiri menyebut gaya mereka adalah extreme power metal. Musik ini ditandai dengan tempo musik yang sangat cepat dan bertenagga. Nah, menariknya dragonforce adalah gitaris mereka Herman Li, yang membawa gaya musik seperti nada2 yang berasal video game. Contohnya, masih inget bunyi pada game ‘pacman’? Sepanjang album inhuman rampage ini bunyi semacam itu banyak dihasilkan.
Mengenai musik yang mempengaruhi, dragonforce terdengar banyak dipe?garuhi grup2 metal eropa seperti helloween dan iron maiden. Hanya saja, dragonforce lebih cepat temponya. Nada2 lagunya juga banyak mengambil nada mayor, sehingga jika dinyanyikan dengan tempo ‘ normal ‘ dan tanpa distorsi gitar akan terdengar seperti lagu anak-anak.
Saat saya pertama mendengar solo gitar grup ini, yang teringat pertama kali adalah CACOPHONY!!! Saya tidak terlalu berharap masih banyak yang in adalah CACOPHONY!!! Saya tidak terlalu berharap masih banyak yang ingat sama grup ini, tapi buat anak metal thn 90-an , grup yang digawangi marty friedman ( yes , THE Marty friedman from megadeth) dan jason becker ini pasti masih diingat. Dragonforce dalam banyak hal sangat mengingatkan saya pada cacophony, terutama sound gitarnya.
satu lagi ciri dragonforce adalah pemakaian keyboard yang sangat ekstensif, mengingatkan saya pada bon jovi, hanya saja dengan gaya yang sangat berbed mengingatkan saya pada bon jovi, hanya saja dengan gaya yang sangat berbeda. Kata2-nya pun sangat tidak bisa dibandingkan dengan bon jovi heheheh. Tak ada lagu cinta. Kebanyakan kata2 dalam lagu dragonforce bersifat fantasi.
cacophony and bon jovi? Hmmm, saya sendiri malah ga terlalu setuju jadinya…..:) ok, pesawat uda mau brkt ni

___
Sent with SnapperMail
through Treo650
with Telkom Flexi network
.

Monday, February 25th, 2008

Cafe Pisang : Good Place, Good Taste, Good Attitude

Hal yang paling disukai seorang residen urologi ketika ditugaskan menjadi asisten di RS PHC (Port Health Center / RS Pelabuhan Surabaya / RSPS) adalah : CAFE PISANG!!!! Cafe ini terletak di dalam RS, namun jangan bayangkan Cafe Pisang adalah kantin RS kebanyakan yang kumuh dan kotor seperti yang biasa kita bayangkan. Cafe Pisang adalah tempat kongkow yang sangat asik , apalagi setelah operasi panjang dan melelahkan di RS hehehe

cafe pisang 2Cafe Pisang 1
Seperti yang dapat dilihat pada foto di atas, Cafe Pisang merupakan tempat makan dengan konsep terbuka. Di sekitar cafe ini terdapat tumbuh-tumbuhan hijau yang dapat memberi kesan sejuk dan meneduhkan bagi pengunjung. Terakhir saya kunjungi, bahkan terdapat ‘live music’ akustik yang menghibur penonton… itu di hari sabtu sekitar jam 10 pagi. Jika berada di dalam cafe ini, pengunjung tidak akan merasakan berada di sebuah cafe di RS. Lebih terasa seperti cafe tempat kongkow di tempat lain yang mungkin sering kita kunjungi.

Jika bicara soal rasa masakan, sebenarnya saya bukan orang yang tepat untuk menilai. Seperti kebanyakan rekan residen lainnya, bagi kami hanya ada 2 macam rasa masakan : enak dan enak sekali …:) Untuk masakan di cafe pisang sih kebanyakan masuk ke dalam kriteria enak sekali buat kami. Paling tidak, makanannya sangat layak makan, dibandingkan makanan di kantin tempat biasa kami makan. Namun kalau mau jujur, sebenarnya makanan di cafe ini sangat layak, menilik harganya yang juga sangat terjangkau. Sebagai sedikit ilustrasi, rawon iga di sini dihargai Rp. 11.000. Sangat pantas dan terjangkau bukan?

Dan yang paling mengesankan adalah attitude-nya. Benar-benar profesional, penuh senyum, dan sangat menyenangkan. Ketika datang anda akan disambut orang-orang beritikad baik, ceria dan hangat. Jadi rasanya baru datang saja capek setelah bekerja seharian sudah sedikit terobati di sini.

Salut…

Saturday, February 16th, 2008

gOS : si cantik yang (kurang) cocok dipakai di indonesia

Hari ini saya baru mencoba suatu sistem operasi baru bernama gOS. Kalimat pertama ini saya susun sedemikian rupa, karena inilah yang ada di kepala para pembuat gOS ketika membuatnya. Mereka ingin sistem operasi ini demikian mudahnya sehingga orang yang tidak pernah memakai komputer pun bisa menggunakannya. Meminjam istilah mereka sendiri, bahkan kakek nenek yang ga terlalu biasa menggunakan komputer pun akan mudah menggunakan gOS untuk keperluan sehari-hari seperti browsing, cek email dan menggunakan office suite.

gOS

gOS adalah operating system turunan Ubuntu yang dibuat oleh ‘Good OS LLC’ yang berbasis di Los Angeles. g pada gOS bukanlah ‘google’ seperti yang mungkin awalnya kita kira, melainkan’good’ atau ‘green’. Seperti yang sudah banyak kita ketahui, Ubuntu adalah salah satu distribusi GNU/Linux (yang lebih sering kita sebut ‘Linux’ saja) , yang paling terkenal saat ini. Linux? kalau begitu susah dong memakainya?

Aha!!! Salah saudara-saudara… Bahkan saya yang sudah sekitar 3 tahun terakhir ini menggunakan SimplyMepis sebagai distro andalan saya, masih terkaget-kaget dengan mudahnya penggunaan gOS ini…. Benar-benar jauh dari keadaan Linux 5 tahun lalu, yang masih sangat sulit digunakan.

Ketika saya mulai mencoba gOS dari LiveCD-nya, saya langsung merasakan bahwa gOS dirancang seperti buku-buku ‘teenlit’ yang banyak beredar di toko buku beberapa waktu belakangan ini. Tampilan yang cantik, software gaul, dan penggunaan yang benar-benar ‘ga perlu mikir’. Di bagian bawah desktopnya terdapat tampilan ‘iBar’ ala MacOSX, dengan animasi yang terlihat sangat cantik bahkan di komputer duron 650 di sekretariat urologi hehehehe… di ‘iBar’ tersebut terdapat shortcut ke berbagai tempat ‘gaul internet’ yang banyak dikenal anak muda saat ini. Shortcut ke berbagai aplikasi google adalah yang terutama.

Dengan mudah pengguna dapat mengakses gMail, GoogleDocs, youtube, wikipedia, blogger dan sebagainya dari shortcut di ‘iBar’ tersebut. Akses ke berbagai ‘drive’ di komputer juga langsung dapat dilakukan dari ‘My gOS’ yang berfungsi seperti ‘My Computer’ di sistem operasi yang lebih populer (hehehe). Ini agak berbeda dengan berbagai distro linux lain yang tidak memberikan fasilitas seperti itu di desktopnya. Software yang disertakan juga ‘to-the-point’ untuk pengguna akhir yang tidak mau pusing dengan berbagai pilihan di dunia linux yang kadang membingungkan pengguna ‘newbie’. OpenOffice yang merupakan saingan terberat MS Office sudah disertakan, browser firefox, email software thunderbird, skype buat telp internet, semua sudah ter-bundle dalam distro ini. Mau menyetel musik? Nonton film? semua bisa dilakukan (dengan sedikit penyesuaian).

Untuk pengenalan perangkat keras juga sangat baik, saya tidak perlu memasang driver apa pun untuk menjalankan komputer tua saya di kamar jaga uro. thanks to Ubuntu yang memang sangat piawai dalam pengenalan perangkat keras. Koneksi ke jaringan ber-DHCP pun langsug terjadi, tanpa pengguna perlu pusing mengatur apa pun.

Nah, sekarang cerita bagian ngga enaknya. gOS yang saya pakai adalah gOS 2.0 beta1 ‘Rocket’. Tampaknya para pembuatnya agak terburu-buru ketika merilis versi 2.0 ini , karena akan ditampilkan pada tanggal 7 Januari 2008 di ‘Customer Electronic Show’ di Las Vegas. Sehingga terkesan banyak yang masih perlu dibenahi pada beberapa bagiannya. Dan di beberapa tempat, pembenahan itu sering berarti menambahkan bagian yang vital pada suatu sistem operasi. Sebagai contoh, tidak seperti pada versi sebelumnya ternyata gOS veris 2 ‘lupa’ menyertakan fasilitas ‘add and remove hardware’. jadi bisa dibayangkan, gOS 2 tidak bisa menginstall printer dengan mudah (kalau dengan sulit sih bisa, tapi kan ini sistem operasi buat ABG dan nenek-nenek hehehe).

Yang lebih parah lagi, ternyata gOS belum memberikan dukungan untuk menggunakan ‘dial up modem’. Tampaknya gOS dibuat dengan kemampuan internet broadband di kepala pembuatnya, bukan untuk indonesia yang masih sangat tergantung kepada Telkomnet Instan. sayang sekali yah…

Jadi, saya rasa gOS adalah suatu pilihan sistem operasi yang menarik, cantik dan gaul … juga mudah sekali penggunaannya… tapi kayaknya kok kurang cocok dipakai di indonesia yah? gara-gara ga ada fasilitas mudah untuk dial up itu. berapa banyak ABG dan ’senior citizen’ di indonesia yang punya akses broadband? well, mungkin beberapa tahun ke depan, bukan sekarang….

Thursday, February 14th, 2008

Oleh-oleh dari Jakarta : Busway

Selama 1 bulan ini, (mulai tanggal 1 Januari 2008 sampai dengan 31 Januari 2008) saya berada di jakarta menjalani salah satu syarat dalam pendidikan saya. Perjalanan, akomodasi , semua tidak ada masalah. Tinggal masalah kendaraan nih… Masak ke mana-mana jalan kaki? ato naik taksi? wah, bangkrut kalo ke mana-mana naik taksi. Naik kendaraan umum lain seperti bus , wah, selalu terlihat penuh dan…. “menyeramkan” hehehehe. Ternyata jakarta punya satu pemecahan untuk masalah in. Pemecaan itu disebut : Bus Transjakarta, atau lebih sering disebut “Busway”. Sebenarnya yang lebih sering dipakai adalah nama “Busway” ini. Tapi terima kasih pada saudara saya Erwin, yang menerangkan salah kaprah ini. Busway sih sebetulnya jalannya, sedangkan bus dan sistem transportasinya disebut Transjakarta.

Rekan-rekan yang tinggal di jakarta pasti sudah tidak asing lagi dengan barang ini. Tapi untuk rekan yang tidak berdomisili di jakarta, mungkin ada baiknya saya sedikit bercerita tentang bus transjakarta ini.

Bus transjakarta ini sangat “murah” untuk ukuran bepergian di jakarta. Dengan membayar Rp. 3500 , kita bisa pergi ke tempat-tempat yang relatif jauh di kota jakarta. Sistemnya terbagi menjadi beberapa koridor yang menunjukkan “trayek” nya. Petanya bisa anda lihat di bawah ini.
Peta Busway

Jalur-jalur itu ditandai dengan warna yang berbeda-beda. Setiap stasiun pemberhentian ditandai dengan lingkaran kecil putih bernama. Di perpotongannya biasanya terdapat tanda diagonal, menunjukan kalau di sana adalah terminal transit. Di terminal transit itu kita bisa berpindah jalur, dan untuk mencapai tujuan kadang kita harus beberapa kali pindah jalur.

Dalam terminal/halte busway Di halte transit, menuju ke transit berikutnya..

Mungkin pada awalnya agak membingungkan dan “menakutkan ” hehehe… tapi selanjutnya saya menemukan bahwa para petugas di setiap halte busway ternyata sangat ramah dan bersahabat. Di dalam bus pun terdapat petugas yang akan dengan ramah menerangkan tujuan yang ingin kita capai. Ini bukan ngecap, karena sebagai orang yang sama sekali ga ngerti jakarta, saya banyaaaaaaak banget bertanya ke petugas busway. dan sejauh ini saya selalu mendapat jawaban yang memuaskan.

Rekan petugas busway

Bus yang digunakan sebagai kendaraan transjakarta ini pun menurut saya cukup nyaman, ber-AC, dan jumlanya dibatasi 85 orang dalam 1 bus. jadi bahkan di saat yang paling penuh pun masih relatif tidak terlalu “menyengsarakan” hehehehe.

Suasana dalam busway 1Suasana dalam busway 2

Jadi, secara umum busway sangat mepermudah saya selama di jakarta. Sayangnya tempat tempat tertentu yang ingin saya kunjungi masih belum dilewati rute bus transjakarta. karena itu pengeeeen bgt jalur busway di jakarta ditambah.

Sunday, January 27th, 2008