gOS : si cantik yang (kurang) cocok dipakai di indonesia
Hari ini saya baru mencoba suatu sistem operasi baru bernama gOS. Kalimat pertama ini saya susun sedemikian rupa, karena inilah yang ada di kepala para pembuat gOS ketika membuatnya. Mereka ingin sistem operasi ini demikian mudahnya sehingga orang yang tidak pernah memakai komputer pun bisa menggunakannya. Meminjam istilah mereka sendiri, bahkan kakek nenek yang ga terlalu biasa menggunakan komputer pun akan mudah menggunakan gOS untuk keperluan sehari-hari seperti browsing, cek email dan menggunakan office suite.
gOS adalah operating system turunan Ubuntu yang dibuat oleh ‘Good OS LLC’ yang berbasis di Los Angeles. g pada gOS bukanlah ‘google’ seperti yang mungkin awalnya kita kira, melainkan’good’ atau ‘green’. Seperti yang sudah banyak kita ketahui, Ubuntu adalah salah satu distribusi GNU/Linux (yang lebih sering kita sebut ‘Linux’ saja) , yang paling terkenal saat ini. Linux? kalau begitu susah dong memakainya?
Aha!!! Salah saudara-saudara… Bahkan saya yang sudah sekitar 3 tahun terakhir ini menggunakan SimplyMepis sebagai distro andalan saya, masih terkaget-kaget dengan mudahnya penggunaan gOS ini…. Benar-benar jauh dari keadaan Linux 5 tahun lalu, yang masih sangat sulit digunakan.
Ketika saya mulai mencoba gOS dari LiveCD-nya, saya langsung merasakan bahwa gOS dirancang seperti buku-buku ‘teenlit’ yang banyak beredar di toko buku beberapa waktu belakangan ini. Tampilan yang cantik, software gaul, dan penggunaan yang benar-benar ‘ga perlu mikir’. Di bagian bawah desktopnya terdapat tampilan ‘iBar’ ala MacOSX, dengan animasi yang terlihat sangat cantik bahkan di komputer duron 650 di sekretariat urologi hehehehe… di ‘iBar’ tersebut terdapat shortcut ke berbagai tempat ‘gaul internet’ yang banyak dikenal anak muda saat ini. Shortcut ke berbagai aplikasi google adalah yang terutama.
Dengan mudah pengguna dapat mengakses gMail, GoogleDocs, youtube, wikipedia, blogger dan sebagainya dari shortcut di ‘iBar’ tersebut. Akses ke berbagai ‘drive’ di komputer juga langsung dapat dilakukan dari ‘My gOS’ yang berfungsi seperti ‘My Computer’ di sistem operasi yang lebih populer (hehehe). Ini agak berbeda dengan berbagai distro linux lain yang tidak memberikan fasilitas seperti itu di desktopnya. Software yang disertakan juga ‘to-the-point’ untuk pengguna akhir yang tidak mau pusing dengan berbagai pilihan di dunia linux yang kadang membingungkan pengguna ‘newbie’. OpenOffice yang merupakan saingan terberat MS Office sudah disertakan, browser firefox, email software thunderbird, skype buat telp internet, semua sudah ter-bundle dalam distro ini. Mau menyetel musik? Nonton film? semua bisa dilakukan (dengan sedikit penyesuaian).
Untuk pengenalan perangkat keras juga sangat baik, saya tidak perlu memasang driver apa pun untuk menjalankan komputer tua saya di kamar jaga uro. thanks to Ubuntu yang memang sangat piawai dalam pengenalan perangkat keras. Koneksi ke jaringan ber-DHCP pun langsug terjadi, tanpa pengguna perlu pusing mengatur apa pun.
Nah, sekarang cerita bagian ngga enaknya. gOS yang saya pakai adalah gOS 2.0 beta1 ‘Rocket’. Tampaknya para pembuatnya agak terburu-buru ketika merilis versi 2.0 ini , karena akan ditampilkan pada tanggal 7 Januari 2008 di ‘Customer Electronic Show’ di Las Vegas. Sehingga terkesan banyak yang masih perlu dibenahi pada beberapa bagiannya. Dan di beberapa tempat, pembenahan itu sering berarti menambahkan bagian yang vital pada suatu sistem operasi. Sebagai contoh, tidak seperti pada versi sebelumnya ternyata gOS veris 2 ‘lupa’ menyertakan fasilitas ‘add and remove hardware’. jadi bisa dibayangkan, gOS 2 tidak bisa menginstall printer dengan mudah (kalau dengan sulit sih bisa, tapi kan ini sistem operasi buat ABG dan nenek-nenek hehehe).
Yang lebih parah lagi, ternyata gOS belum memberikan dukungan untuk menggunakan ‘dial up modem’. Tampaknya gOS dibuat dengan kemampuan internet broadband di kepala pembuatnya, bukan untuk indonesia yang masih sangat tergantung kepada Telkomnet Instan. sayang sekali yah…
Jadi, saya rasa gOS adalah suatu pilihan sistem operasi yang menarik, cantik dan gaul … juga mudah sekali penggunaannya… tapi kayaknya kok kurang cocok dipakai di indonesia yah? gara-gara ga ada fasilitas mudah untuk dial up itu. berapa banyak ABG dan ’senior citizen’ di indonesia yang punya akses broadband? well, mungkin beberapa tahun ke depan, bukan sekarang….
Thursday, February 14th, 2008

